Taukah ketakutan seorang anak terhadap ibunya??
Tidak adanya kehadiran seorang ibu disaat dia butuhkan pelukan kasih sayangnya yang dapat memberi ketenangan d hatinya sampai ia terjaga dari tidurnya....
Mungkinkah ketakutan itu terjadi pada setiap anak-anaknya?
Mungkin ia...
Karena sekarang seorang ibu taklagi berada di sampingnya karena ibu sibuk mencari tambahan uang untuk anaknya walaupun sang ayah masih mampu mencukupi kebutuhanya...
Terkadang ibu tak lagi mengajari mengenal alam,mengajari mengenal tuhanya,mengenali dunia..
Taukah bahwa ibu adalah guru terhebat di dunia ini..
Ibu lah yang dapat mengajari banyak hal..
Sampai2 ibu mengajari makan,berjalan,berbicara,dsb
Taukah jika sekarang tak lagi ibu yang mengajari anaknya,melainkan bibi/pengasuh atau kah nenek??
Itu kah ibu sesunguhnya buat anak-anak sendiri...
Bagai manakah pribadi anak tersebut ketika dewasa?
Pantas banyak nenek yg masuk panti jompo padahal nenek itu mempunyai anak...
Mungkin bibit yg ditaburkan memberikan hasilnya untuk semua itu
Maukah jika semua anak memiliki pribadi yang tidak baik...
Itu semua tergantung pada ibu..karena ibu adalah pesantren buat santrinya...
Jumat, 28 Mei 2010
Rabu, 05 Mei 2010
Tiga Alasan Teroris Memilih Indonesia
editorial Media Indonesia ~ {November 14th, 2005 - 2:15 am}
ITULAH judul berita utama Media edisi Minggu (13/11). Ia merupakan rangkuman pendapat dari para pengamat intelijen kenapa dua penjahat besar yakni Dr Azahari dan Noordin M Top asal Malaysia memilih melakukan kejahatannya di Indonesia. Ketiga alasan itu, yakni lemahnya payung hukum, rendahnya pendidikan, dan suburnya kemiskinan.
Mengikuti logika awam, kita memang bisa amat emosional dengan kejahatan terorisme di negeri ini. Karena para gembong teroris itu memilih Indonesia dan bukan negerinya sendiri (Malaysia). Indonesia yang tengah dililit banyak masalah, menjadi amat menderita atas kejahatan yang diotaki dua warga negara Malaysia itu.
Kita akui Dr Azahari dan Noordin M Top tidak mungkin leluasa beroperasi di Indonesia tanpa berbagai ‘kemudahan’. Berbagai ‘kemudahan’ itulah yang harus menjadi pelajaran bagi elite negeri ini dalam membangun Indonesia ke depan.
Kita bisa berdebat panjang tentang kebenaran tiga alasan itu. Namun, juga tidak sepenuhnya meleset. Pendidikan yang rendah dan kemiskinan yang tinggi, jelas ladang garapan empuk bagi siapa pun untuk berjualan ideologi, keyakinan, atau bahkan mimpi-mimpi.
Lalu alasan hukum. Betapa pun sangat debatable, fakta menunjukkan setelah Undang-Undang No 11/PNPS/1963 tentang Tindak Pidana Subversi (UU Subversi) dicabut, Indonesia menjadi sasaran empuk para teroris. Sejak bom malam Natal pada tahun 2000, bom seakan tidak berhenti menjadi horor di negeri ini: antara lain bom Bali I (2002), bom JW Marriott (2004), dan bom Bali II (2005).
Kini Undang-Undang Subversi telah diganti dengan Undang-Undang No 15 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Terorisme (UU Antiterorisme). Undang-undang yang disahkan semasa pemerintahan Megawati ini dianggap masih seperti macan ompong.
Kita memang belum sembuh dari trauma Orde Baru akibat UU Subversi. Sayangnya, kita juga masih setengah hati menerima UU Antiterorisme.
Bangsa ini sepakat tidak menghidupkan lagi UU Subversi atau meniru Malaysia dan Singapura dengan Internal Security Act (ISA) yang amat represif. ISA mencakup keamanan bidang hukum, keamanan, dan politik, sehingga penjahat seperti Dr Azahari dan Noordin M Top tidak punya ruang untuk bertingkah di negeri mereka sendiri. Akibatnya sudah tentu, dua negeri itulah yang paling stabil di Asia Tenggara. Keduanya paling menikmati keuntungan ekonomi di tengah instabilitas negara-negara seperti Indonesia, Filipina, dan Thailand.
Indonesia hari ini harus tegas berkata ‘TIDAK’ untuk terus menjadi ‘penonton’ kejayaan Malaysia dan Singapura. Bukankah dalam banyak fakta, yang membuat kedua negara itu berjaya juga Indonesia? Kebodohan Indonesia itulah yang membuat Malaysia dan Singapura melesat berada di depan
editorial Media Indonesia ~ {November 14th, 2005 - 2:15 am}
ITULAH judul berita utama Media edisi Minggu (13/11). Ia merupakan rangkuman pendapat dari para pengamat intelijen kenapa dua penjahat besar yakni Dr Azahari dan Noordin M Top asal Malaysia memilih melakukan kejahatannya di Indonesia. Ketiga alasan itu, yakni lemahnya payung hukum, rendahnya pendidikan, dan suburnya kemiskinan.
Mengikuti logika awam, kita memang bisa amat emosional dengan kejahatan terorisme di negeri ini. Karena para gembong teroris itu memilih Indonesia dan bukan negerinya sendiri (Malaysia). Indonesia yang tengah dililit banyak masalah, menjadi amat menderita atas kejahatan yang diotaki dua warga negara Malaysia itu.
Kita akui Dr Azahari dan Noordin M Top tidak mungkin leluasa beroperasi di Indonesia tanpa berbagai ‘kemudahan’. Berbagai ‘kemudahan’ itulah yang harus menjadi pelajaran bagi elite negeri ini dalam membangun Indonesia ke depan.
Kita bisa berdebat panjang tentang kebenaran tiga alasan itu. Namun, juga tidak sepenuhnya meleset. Pendidikan yang rendah dan kemiskinan yang tinggi, jelas ladang garapan empuk bagi siapa pun untuk berjualan ideologi, keyakinan, atau bahkan mimpi-mimpi.
Lalu alasan hukum. Betapa pun sangat debatable, fakta menunjukkan setelah Undang-Undang No 11/PNPS/1963 tentang Tindak Pidana Subversi (UU Subversi) dicabut, Indonesia menjadi sasaran empuk para teroris. Sejak bom malam Natal pada tahun 2000, bom seakan tidak berhenti menjadi horor di negeri ini: antara lain bom Bali I (2002), bom JW Marriott (2004), dan bom Bali II (2005).
Kini Undang-Undang Subversi telah diganti dengan Undang-Undang No 15 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Terorisme (UU Antiterorisme). Undang-undang yang disahkan semasa pemerintahan Megawati ini dianggap masih seperti macan ompong.
Kita memang belum sembuh dari trauma Orde Baru akibat UU Subversi. Sayangnya, kita juga masih setengah hati menerima UU Antiterorisme.
Bangsa ini sepakat tidak menghidupkan lagi UU Subversi atau meniru Malaysia dan Singapura dengan Internal Security Act (ISA) yang amat represif. ISA mencakup keamanan bidang hukum, keamanan, dan politik, sehingga penjahat seperti Dr Azahari dan Noordin M Top tidak punya ruang untuk bertingkah di negeri mereka sendiri. Akibatnya sudah tentu, dua negeri itulah yang paling stabil di Asia Tenggara. Keduanya paling menikmati keuntungan ekonomi di tengah instabilitas negara-negara seperti Indonesia, Filipina, dan Thailand.
Indonesia hari ini harus tegas berkata ‘TIDAK’ untuk terus menjadi ‘penonton’ kejayaan Malaysia dan Singapura. Bukankah dalam banyak fakta, yang membuat kedua negara itu berjaya juga Indonesia? Kebodohan Indonesia itulah yang membuat Malaysia dan Singapura melesat berada di depan
Dalam catatan FBI resmi menunjukkan bahwa hanya
6% dari serangan teroris di wilayah AS 1980-2005 dilakukan oleh ekstremis Islam.
Sisanya 94% berasal dari kelompok-kelompok lainnya (42% dari Latin, 24% dari kelompok sayap kiri ekstrim, 7% dari ekstremis Yahudi, 5% dari komunis, dan 16% dari semua kelompok lain).
Data yang dikumpulkan oleh Europol bahkan lebih menguatkan argumen lebih jauh.
Europol menerbitkan laporan tahunan berjudul Terorisme Uni Eropa Situasi dan Laporan Trend.
Pada website resmi mereka, Anda dapat mengakses laporan dari 2007, 2008, dan 2009.
Hasilnya jelas, dan tegas membuktikan bahwa tidak semua teroris adalah Muslim.
Bahkan, sebanyak 99,6% dari serangan teroris di Eropa dilakukan oleh kelompok-kelompok non-Muslim;
dan 84,8%-nya berasal dari kelompok separatis yang sama sekali tidak berhubungan dengan Islam.
Artinya, hanya kasus tertentu yang berhubungan dengan Muslim,
itupun karena dengan alasan tertentu misalnya karena penindasan, dan jumlahnya hanya 0,4%.
6% dari serangan teroris di wilayah AS 1980-2005 dilakukan oleh ekstremis Islam.
Sisanya 94% berasal dari kelompok-kelompok lainnya (42% dari Latin, 24% dari kelompok sayap kiri ekstrim, 7% dari ekstremis Yahudi, 5% dari komunis, dan 16% dari semua kelompok lain).
Data yang dikumpulkan oleh Europol bahkan lebih menguatkan argumen lebih jauh.
Europol menerbitkan laporan tahunan berjudul Terorisme Uni Eropa Situasi dan Laporan Trend.
Pada website resmi mereka, Anda dapat mengakses laporan dari 2007, 2008, dan 2009.
Hasilnya jelas, dan tegas membuktikan bahwa tidak semua teroris adalah Muslim.
Bahkan, sebanyak 99,6% dari serangan teroris di Eropa dilakukan oleh kelompok-kelompok non-Muslim;
dan 84,8%-nya berasal dari kelompok separatis yang sama sekali tidak berhubungan dengan Islam.
Artinya, hanya kasus tertentu yang berhubungan dengan Muslim,
itupun karena dengan alasan tertentu misalnya karena penindasan, dan jumlahnya hanya 0,4%.
Koran al-Safir terbitan Lebanon memperingatkan eskalasi berbagai upaya dan tujuan terselubung Amerika Serikat dalam menggelar Konferensi Keamanan Nuklir. Koran ini juga menyebut Amerika Serikat tengah berupaya mengalihkan friksi dan isu nuklir dari Barat ke dunia Islam.
Dalam laporannya, koran al-Safir mengkritik pemerintah Amerika, dan pelaksanaan konferensi keamanan nuklir dan menilai upaya Presiden Amerika Barack Obama mendekatkan Amerika dengan negara-negara adidaya untuk menghancurkan senjata nuklir, sebagai mimpi belaka.
Perspektif Obama terkait keamanan nuklir Amerika dinilai "terlalu idealis" mengingat sebagian besar politik dan upaya Obama selama ini bertujuan politik dan tidak ada kaitannya dengan etika dan prinsip-prinsipnya.
Koran terbesar di Lebanon ini juga menuding Amerika Serikat berupaya mengadu dunia dengan dunia Islam dan menciptakan istilah baru "bahaya nuklir Islam" serta dunia diimbau untuk bersatu menghadapi ancaman tersebut.
Konferensi di Amerika itu digelar berlandaskan ide yang menyebar luas di Negeri Paman Sam itu yang intinya adalah bahwa al-Qaeda sudah selama 15 tahun berusaha memiliki senjata nuklir untuk digunakan terhadap Amerika Serikat dan kota-kota besar di Barat.
Bahaya ini mengingatkan benak manusia pada tragedi anti-kemanusiaan yang dilakukan Amerika Serikat dengan menjatuhkan dua bom atom ke kota Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945.
Konferensi tersebut juga mengandung pesan implisit bahwa ancaman yang sama juga muncul dalam upaya Republik Islam Iran menggapai senjata destruksi massal.
Sementara itu, ketidakhadiran Pakistan dan Israel sebagai dua sekutu Amerika Serikat juga mengundang tanda tanya. Bukan sekedar asumsi, kedua negara tersebut merupakan ancaman keamanan nuklir terbesar di dunia. Semua pihak mengetahui bahwa senjata nuklir Pakistan berpotensi jatuh ke tangan kelompok teroris, sementara Israel telah mengancam akan menggunakan senjata nuklirnya dalam perang mendatang.
Penandatanganan kesepakatan START II dengan Rusia dan pelaksanaan konferensi keamanan nuklir, tidak lain adalah upaya Amerika Serikat untuk mendongkrak citranya di kancah internasional. Yang pasti, Amerika Serikat tidak mampu memberikan bukti bahwa al-Qaeda berupaya memiliki senjata nuklir atau Republik Islam Iran berusaha memproduksinya. Begitu juga Obama tidak mungkin dapat meyakinkan para peserta konferensi terkait senjata nuklir Pakistan dan Israel.
Koran Lebanon itu di akhir laporannya menulis, "Mungkin sisi terburuk konferensi keamanan nuklir di Amerika adalah bahwa Washington berupaya menciptakan bahaya-bahaya fiktif untuk disesuaikan dengan politiknya dan juga mengalihkan friksi nuklir dari Eropa dan Barat ke wilayah Arab dan negara-negara Islam." (ir/mj)
Dalam laporannya, koran al-Safir mengkritik pemerintah Amerika, dan pelaksanaan konferensi keamanan nuklir dan menilai upaya Presiden Amerika Barack Obama mendekatkan Amerika dengan negara-negara adidaya untuk menghancurkan senjata nuklir, sebagai mimpi belaka.
Perspektif Obama terkait keamanan nuklir Amerika dinilai "terlalu idealis" mengingat sebagian besar politik dan upaya Obama selama ini bertujuan politik dan tidak ada kaitannya dengan etika dan prinsip-prinsipnya.
Koran terbesar di Lebanon ini juga menuding Amerika Serikat berupaya mengadu dunia dengan dunia Islam dan menciptakan istilah baru "bahaya nuklir Islam" serta dunia diimbau untuk bersatu menghadapi ancaman tersebut.
Konferensi di Amerika itu digelar berlandaskan ide yang menyebar luas di Negeri Paman Sam itu yang intinya adalah bahwa al-Qaeda sudah selama 15 tahun berusaha memiliki senjata nuklir untuk digunakan terhadap Amerika Serikat dan kota-kota besar di Barat.
Bahaya ini mengingatkan benak manusia pada tragedi anti-kemanusiaan yang dilakukan Amerika Serikat dengan menjatuhkan dua bom atom ke kota Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945.
Konferensi tersebut juga mengandung pesan implisit bahwa ancaman yang sama juga muncul dalam upaya Republik Islam Iran menggapai senjata destruksi massal.
Sementara itu, ketidakhadiran Pakistan dan Israel sebagai dua sekutu Amerika Serikat juga mengundang tanda tanya. Bukan sekedar asumsi, kedua negara tersebut merupakan ancaman keamanan nuklir terbesar di dunia. Semua pihak mengetahui bahwa senjata nuklir Pakistan berpotensi jatuh ke tangan kelompok teroris, sementara Israel telah mengancam akan menggunakan senjata nuklirnya dalam perang mendatang.
Penandatanganan kesepakatan START II dengan Rusia dan pelaksanaan konferensi keamanan nuklir, tidak lain adalah upaya Amerika Serikat untuk mendongkrak citranya di kancah internasional. Yang pasti, Amerika Serikat tidak mampu memberikan bukti bahwa al-Qaeda berupaya memiliki senjata nuklir atau Republik Islam Iran berusaha memproduksinya. Begitu juga Obama tidak mungkin dapat meyakinkan para peserta konferensi terkait senjata nuklir Pakistan dan Israel.
Koran Lebanon itu di akhir laporannya menulis, "Mungkin sisi terburuk konferensi keamanan nuklir di Amerika adalah bahwa Washington berupaya menciptakan bahaya-bahaya fiktif untuk disesuaikan dengan politiknya dan juga mengalihkan friksi nuklir dari Eropa dan Barat ke wilayah Arab dan negara-negara Islam." (ir/mj)
Langganan:
Komentar (Atom)